Keceriaan pagi Pantai “KUTA” Bolmut lenyap ditelan Ombak
BURITITA.COM – Tidak seperti tahun sebelumnya, saat pagi Ramadan, kawasan pantai Kuala Utara (Kuta) yang biasanya ramai pengunjung, kali ini terlihat sepi. Hingga sekitar pukul 08.00 Wita, tak satu pun orang mengunjungi kompelks yang biasa disebut tiang bendera itu. Senin (6/6), awal Ramadan kemarin.
Biasanya, keramaian pantai itu sungguh sangat mengasyikkan saat bulan suci Ramadhan. Ada anak-anak berlari-lari lepas di seputaran pantai, muda-mudi bersantai pagi, sampai para orang tua yang sekadar ikut ramai pun datang. Numun, keramaian itu seolah lenyap di telan ombak.
Kepada buritita.com, Hatam yang hanya di temani angin segar pagi, bersolek gemercik ombak, dan pancaran sinar matahari dari ufuk timur, mengakui tahun ini pantai itu sunyi.
“Balik saja. Susana pagi di bulan ramdhan ini, tidak seperti dulu lagi,” kata hatam yang masih merupakan warga desa setempat.
Bukan saja Hatam yang merasa kehilangan dengan suasana ramai pantai Kuta. Pantauan buritita.com di hari kedua Ramadan, beberapa masyarakat yang datang pun mengaku heran dengan situasi yang sudah banyak berubah seiring dengan kemajuan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara itu.
Umul misalnya. Salah satu anak pemilik pondok kecil tempat berjualan Goroho di tiang bendera ini mengaku bingung. “Tidak tahu kenapa sudah sunyi begini. Padahal dulu tidak begini,” kata Umul sambil bergegas masuk untuk menyambung tidur paginya.
Hal yang sama diakui Junadi Pakaya, warga Boroko, Kecamatan Kaidipang yang melintasi komplek itu juga mengaku bingung melihat kondisi pantai tahun ini yang tak seperti biasanya.
“Atau mungkin hanya hari pertama Ramadan ini sepi, lama kelamaan pasti ramai lagi. Kira-kira begitu,” kata Juanidi sambil mengangkat bahu dan merenggangkan kedua telapak tangannya kedepan.
Kondisi pantai yang berada di Kecamatan Kaidipang, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tersebut, sejatinya sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat pariwisata lokal. Paling tidak, di kawasan itu bisa dibuat tempat-tempat khusus untuk jualan masyarakat.
Hal ini bisa mendorong geliat ekonomi masyarakat setempat. Sebab, ada cukup banyak keunggulan yang bisa diharapkan mendorong pengembangan hal tersebut. Pertama, letaknya yang didukung dengan kondisi alamnya yang indah. Kedua, kawasan itu beredekatan dengan Jalan Trans Sulawesi, sehingga sangat mudah dijangakau. Ketiga, bagi masyarakat lokal, kawasan ini sudah cukup dikenal sejak dahulu.
“Itu sebenarnya yang kita harapkan, cuman tidak pernah dilakukan,” kata Hamit, warga sekitar.(Ndri)
Penulis : redaksi
Judul : Keceriaan pagi Pantai “KUTA” Bolmut lenyap ditelan Ombak